- BATE-TANGNGA, JEJAK MASYARAKAT MODERAT HUMANIS
- Nilai Kearifan Lokal dan Kultural Masyarakat Batetangnga
Masyarakat Desa Batetangnga, tempat Pondok Pesantren al-Risalah berpijak, berasal dari suku Pattae—sebuah komunitas yang dikenal luas karena perpaduan unik antara semangat intelektual yang tinggi dan akar budaya yang kuat. Seluruh warganya memeluk Islam dan menjalankan nilai-nilai keagamaannya secara hidup dan nyata dalam keseharian. Di balik kesederhanaan desa ini, tersimpan potensi luar biasa yang jarang ditemukan di tempat lain.
Batetangnga bukan hanya dikenal sebagai kampung religius, tetapi juga sebagai desa ilmiah. Hampir setiap rumah di desa ini memiliki anak atau keluarga yang menyandang gelar sarjana. Bahkan, tak sedikit yang telah mencapai jenjang akademik tertinggi: doktor, profesor, magister, dari berbagai bidang dan profesi. Nama-nama besar yang berasal dari Batetangnga tersebar: ada yang menjadi rektor, wakil rektor, kepala biro di PTKIN, dekan, hakim, hingga pejabat Kanwil Kementerian Agama. Semua itu tidak datang tiba-tiba—melainkan buah dari kultur belajar yang sudah mengakar dalam jiwa masyarakatnya sejak lama.
Masyarakat Batetangnga punya filosofi hidup yang kuat, diwariskan dari leluhur dan dijaga dari generasi ke generasi. Mereka memegang teguh prinsip sibantu (saling membantu), siakka (saling mendukung), makarama (menjunjung nilai dan kehormatan), dan kambuangan (bercita-cita tinggi, melompat jauh). Nilai-nilai inilah yang menyalakan semangat belajar, mendorong anak-anak desa untuk menuntut ilmu hingga ke luar pulau, bahkan ke luar negeri, tanpa sekalipun melepaskan jati dirinya sebagai orang Pattae.
Satu pesan yang terus dipegang erat oleh masyarakat Batetangnga datang dari ungkapan luhur para bijak mereka:
"Duai tu’u ku pesanan bijakku ke laoi manuntu lako kampungnga tau: ma'guruko lako dua olli’, mesa wani dua lali’: kelaoko lako kampungngga tau sirupako wani dau sirupa lali’, iya tu’u lali kelaoio kabosian sola kakadakean napameang, melona kesirupako wani, iya tu’u wanio kapianan lao napameang sirupa cani’."
Sebuah pesan dalam bahasa Pattae yang indah dan dalam maknanya. Artinya, jika hendak merantau, belajarlah dari dua makhluk kecil: lebah dan lalat. Jadilah seperti lebah, yang hanya singgah pada bunga dan menghasilkan madu, bukan seperti lalat yang mencari tempat kotor dan menjijikkan. Bila pergi dari kampung, tetaplah membawa nama baik, akhlak yang mulia, dan ilmu yang bermanfaat. Jangan lupa jati diri. Jangan terjerat oleh hal-hal yang membuatmu kehilangan arah.
Filosofi ini telah menjadi semacam "kompas moral" bagi generasi Batetangnga. Maka tak heran jika anak-anak mereka tumbuh dengan semangat tinggi untuk belajar, namun tetap bersahaja dan hormat pada budaya dan orang tua. Mereka mungkin jauh secara fisik, namun tetap dekat secara nilai dan prinsip. Dan di tengah semua itu, Pondok Pesantren al-Risalah hadir sebagai rumah peradaban yang menjaga denyut budaya lokal dan memperkuat semangat keilmuan umat.
Al-Risalah bukan sekadar tempat belajar agama. Ia adalah perpanjangan dari cita-cita orang Pattae: mencerdaskan, mengakar, dan mendidik dengan akhlak. Ia hadir sebagai penjaga ruh kultural masyarakat—memelihara warisan lokal sambil menyemai wawasan global. Dan yang terpenting, al-Risalah tumbuh bukan untuk memisahkan, tapi untuk menyatu dengan denyut hidup masyarakat Batetangnga yang kaya akan kearifan lokal.
- Islam Moderat dalam Kehidupan Sehari-hari
Masyarakat Batetangnga adalah potret nyata dari kehidupan Islam yang moderat. Di desa ini, Islam bukan hanya dijalankan dalam bentuk ritual keagamaan, tetapi benar-benar dihidupi dalam laku sehari-hari: dalam cara bertetangga, menyambut tamu, menghormati perbedaan, dan menjaga harmoni sosial.
Meskipun hampir seluruh penduduk Batetangnga berasal dari suku Pattae dan mayoritas menganut Islam dengan tradisi keagamaan Nahdlatul Ulama secara kultural, masyarakatnya tetap terbuka dan tidak resisten terhadap keberagaman. Siapa pun yang datang—entah dari suku lain, agama lain, atau budaya yang berbeda—akan disambut dengan keramahan dan rasa hormat yang tulus. Inilah wajah Islam yang damai dan penuh penghargaan terhadap sesama.
Sikap moderat masyarakat Batetangnga bukan hal yang dibuat-buat. Ia tumbuh dari akar nilai yang diwariskan turun-temurun, dan salah satunya tercermin dalam makna nama desa itu sendiri. Nama Batetangnga berasal dari dua kata dalam bahasa lokal: "Bate" yang berarti jejak, dan "Tangnga" yang berarti tengah. Secara leksikal, Batetangnga dapat dimaknai sebagai "jejak di tengah" yang secara filosofis bisa ditafsirkan sebagai jejak moderasi, jejak keseimbangan, jejak orang-orang yang tidak berlebih-lebihan dalam menjalani hidup.
Makna ini bukan sekadar simbol atau cerita lama yang dilupakan, tetapi menjadi napas hidup masyarakat Batetangnga hingga hari ini. Mereka hidup dalam keseimbangan antara menjaga tradisi dan terbuka pada kemajuan, antara mencintai agama dan menghormati keberagaman. Di tengah arus globalisasi dan derasnya pengaruh luar, masyarakat tetap teguh dengan nilai-nilai lokal yang santun, namun tidak menutup diri dari dunia luar.
Di berbagai momen, semangat moderasi ini begitu terasa. Warga bisa duduk bersama dalam acara keagamaan, budaya, maupun musyawarah desa tanpa melihat latar belakang. Para tokoh agama diundang memberi tausiyah, sementara santri dari Pondok Pesantren al-Risalah pun sering menjadi jembatan dakwah yang sejuk di masyarakat. Semua berlangsung dalam suasana yang rukun dan saling menghargai.
Apa yang dijalani oleh masyarakat Batetangnga sesungguhnya adalah cerminan dari nilai Islam wasathiyah—Islam yang berada di jalan tengah. Tidak ekstrim kiri, tidak pula ekstrem kanan. Mereka beragama dengan akal sehat dan hati yang jernih, serta meyakini bahwa perbedaan adalah bagian dari kehendak Allah yang harus diterima dengan bijak.
Di tengah dunia yang kerap diramaikan oleh perpecahan atas nama agama, Batetangnga hadir sebagai pesan sunyi: bahwa agama bisa hidup berdampingan dengan damai dalam keberagaman, bahwa kesalehan tidak harus menafikan kebersamaan, dan bahwa Islam yang moderat bukan hanya konsep, tapi kenyataan yang bisa dirasakan—dihirup, dan dijalani—di kehidupan sehari-hari.
- Peran Tokoh Agama dan Masyarakat dalam Menjaga Moderasi
Moderasi beragama bukan sekadar wacana. Ia menjadi hidup dan bermakna ketika dijaga oleh tokoh-tokoh agama yang memiliki pengaruh, dan disambut oleh masyarakat yang terbuka hati dan pikirannya. Inilah yang terlihat jelas di Batetangnga—sebuah desa yang mampu mempertahankan suasana damai dan sejuk karena kekompakan antara para tokoh agama dan masyarakatnya dalam merawat nilai-nilai pertengahan.
Di Batetangnga, keberagamaan tumbuh dalam ruang yang sehat. Tidak ada sikap saling curiga, tidak pula ada penolakan terhadap perbedaan. Semua itu tidak lepas dari peran para tokoh agama lokal, para ustaz, kiai, dan guru masyarakat yang sejak dulu telah mengajarkan Islam dengan wajah yang ramah dan merangkul. Mereka tidak hanya menyampaikan ajaran di atas mimbar, tetapi juga hadir dalam kehidupan masyarakat—menjadi contoh, menjadi penengah, menjadi penyejuk.
Lebih dari itu, banyak masyarakat Batetangnga yang menjadi pegawai di Kementerian Agama—baik di tingkat kabupaten, provinsi, hingga perguruan tinggi. Mereka tumbuh dari lingkungan yang religius sekaligus terbuka, dan membawa nilai-nilai itu dalam ruang-ruang kebijakan yang lebih luas. Tidak mengherankan jika semangat moderasi beragama yang diusung oleh Kemenag juga hidup kuat di desa ini, bukan karena disuruh, tapi karena memang sudah menjadi bagian dari budaya mereka.
Guru-guru dan pengasuh Pondok Pesantren al-Risalah Batetangnga pun memegang peran penting dalam menjaga wajah moderat Islam di tengah masyarakat. Mereka tidak memusuhi budaya, tapi justru menghargai dan merangkulnya, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama. Inilah bentuk moderasi yang hidup: menerima kearifan lokal sebagai bagian dari cara masyarakat mendekatkan diri kepada Tuhan.
Para tokoh ini tidak hanya mendakwahkan kebaikan, tetapi juga menjadi pelindung umat dari paham-paham keras dan sempit. Mereka hadir membimbing masyarakat, menjaga agar tidak terseret oleh ajaran yang kasar atau menyesatkan. Mereka mengerti bahwa agama harus ditanamkan dengan kelembutan, bukan dengan amarah. Didekati dengan kasih, bukan disodorkan dengan ketakutan.
Hasilnya terlihat nyata. Masyarakat Batetangnga tetap teguh dalam Islam, namun tidak sempit dalam pandangan. Mereka bangga dengan identitasnya, tetapi tidak merasa paling benar sendiri. Mereka hormat kepada adat, tetapi tetap patuh pada syariat. Semua ini bisa terjadi karena ada tokoh yang membimbing, dan masyarakat yang siap dibimbing—dua unsur penting yang saling menguatkan.
Moderasi bukan sekadar jargon di Batetangnga. Ia adalah sikap hidup, yang diajarkan dari rumah ke rumah, dari mimbar ke mushalla, dari pesantren ke kampung-kampung. Dan selama tokoh-tokohnya istiqamah, serta masyarakatnya tetap bersatu, insya Allah nilai-nilai pertengahan ini akan terus terjaga, menjadi warisan berharga untuk generasi yang akan datang.
- Pendidikan dan Tradisi Intelektual sebagai Fondasi Moderasi
Di Pondok Pesantren al-Risalah Batetangnga, nilai-nilai moderasi bukan sekadar teori yang diajarkan di ruang kelas. Ia menjadi nafas pendidikan sejak awal santri menapakkan kaki di pondok ini. Dalam suasana yang sederhana namun penuh makna, para santri dibimbing untuk tumbuh sebagai pribadi yang mencintai ilmu, menjunjung akhlak, dan menghargai perbedaan. Inilah fondasi utama moderasi yang selama ini dijaga dan diwariskan oleh para guru di al-Risalah.
Dalam banyak kesempatan, tema moderasi menjadi bahasan khusus dalam pengajian. Para ustadz menjelaskan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman, sebagaimana tertuang dalam semboyan yang lekat dalam tradisi Islam Nusantara: “hubbul wathan minal iman.” Santri tidak hanya diminta menghafalnya, tetapi dipahamkan betul bahwa menjaga keutuhan Indonesia adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan. Bahwa menjadi warga negara yang baik dan taat bukanlah sikap duniawi, tetapi wujud nyata dari iman yang membumi.
Santri juga diajarkan untuk mencintai perbedaan—bukan hanya menerimanya. Dari kitab-kitab kuning yang mereka pelajari setiap hari, santri diperkenalkan dengan istilah seperti fihi qawlani (ada dua pendapat), wafihi aqwal, dan ungkapan-ungkapan lain yang menggambarkan betapa luas dan kayanya khazanah perbedaan dalam Islam. Dari sinilah mereka memahami bahwa berbeda pendapat bukanlah pertanda permusuhan, tetapi bagian dari rahmat dan keluasan ilmu.
Lebih dari itu, santri diajarkan bahwa memperjuangkan sesuatu tidak boleh dengan kekerasan. Islam tidak mengajarkan paksaan, apalagi kebencian. Segala bentuk perjuangan harus dilandasi cinta dan kasih. Prinsip inilah yang terus ditekankan dalam setiap bimbingan: bahwa dakwah harus lembut, bahwa nasihat harus penuh hikmah, dan bahwa tujuan tak pernah menghalalkan cara.
Pendidikan di al-Risalah juga tidak dilepaskan dari realitas sosial. Para santri mendapatkan pengajaran fikih kemasyarakatan—yakni fikih yang tidak hanya berbicara tentang hukum, tetapi juga bagaimana hukum hadir dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Mereka diajak untuk memahami dan menghormati tradisi keagamaan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat seperti suku Pattae, Mandar, Bugis, dan lainnya. Tradisi seperti mappatamma, ma’bongi, taman banua baru, dan berbagai ekspresi keagamaan lokal lainnya dipahami bukan sebagai lawan syariat, tetapi sebagai budaya yang harus dihargai selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Pemahaman ini bersandar pada kaidah fikih klasik yang tetap relevan hingga kini:
العَادَةُ مُحَكَّمَةٌ
"Adat kebiasaan itu dapat dijadikan hukum (selama tidak bertentangan dengan syariat)."
Dari proses panjang dan mendalam inilah, lahir para santri yang tidak hanya paham kitab, tetapi juga peka terhadap kehidupan masyarakatnya. Mereka menjadi jembatan antara teks dan konteks, antara ilmu dan praktik, antara pesantren dan desa. Santri-santri al-Risalah yang tumbuh dengan nilai-nilai moderat inilah yang kelak menjadi penggerak di tengah masyarakat—yang memberi warna pada kehidupan wali santri, tetangga, dan lingkungan sekitar.
Moderasi bukan sekadar slogan di al-Risalah. Ia tumbuh dalam dialog, diamalkan dalam tindakan, dan diwariskan dalam kebersamaan. Inilah pendidikan sejati yang menjadi ruh pondok ini: membentuk manusia berilmu yang lembut hati, kuat keyakinan tapi lapang dalam perbedaan
- Peran Perempuan dan Anak Muda dalam Praktik Keagamaan Humanis
Di tengah masyarakat Desa Batetangnga yang dikenal religius, berpendidikan, dan menjunjung tinggi nilai budaya, Pondok Pesantren al-Risalah Batetangnga hadir bukan hanya sebagai pusat ilmu, tapi juga sebagai tempat tumbuhnya karakter—terutama bagi para santri muda dan santriwati. Di sinilah pondok dan masyarakat saling menguatkan: nilai-nilai Islam yang humanis bertemu dengan kultur lokal yang penuh rasa empati, tolong-menolong, dan saling menghargai.
Santriwati al-Risalah dididik bukan sekadar untuk menjadi perempuan yang taat secara ritual, tetapi untuk menjadi calon ibu, pendidik keluarga, dan penggerak sosial yang membawa wajah Islam yang lembut dan memuliakan. Mereka belajar agama dari kitab-kitab kuning, hadis-hadis populer, dan pelajaran akhlak yang semuanya ditekankan untuk menghargai sesama, menjauhi kekerasan, dan menebar cinta.
Di masyarakat Batetangnga sendiri, perempuan sudah lama memainkan peran penting—bukan hanya di rumah, tetapi juga di ruang-ruang pendidikan, ekonomi, dan budaya. Oleh karena itu, santriwati al-Risalah dilatih sejak awal untuk meneruskan peran itu dengan membawa semangat keagamaan yang inklusif, sejuk, dan tidak menghakimi. Mereka aktif dalam kegiatan sosial seperti santunan anak yatim, membantu sesama santri yang sedang kesulitan, hingga terlibat dalam gerakan peduli lingkungan dan solidaritas antarwarga.
Santri putra pun tidak lepas dari pembinaan nilai-nilai ini. Mereka diajarkan bahwa agama bukan untuk ditampilkan dengan kekerasan atau keangkuhan, melainkan dengan akhlak, keteladanan, dan kepedulian terhadap sekitar. Dalam masyarakat Batetangnga yang menjunjung tinggi prinsip sibantu dan siakka, para santri didorong untuk membawa nilai-nilai itu keluar dari pesantren, ke tengah masyarakat, dengan penuh kasih dan kebijaksanaan.
Apalagi, masyarakat Batetangnga memang sejak dulu dikenal memiliki akar tradisi yang kuat namun tetap terbuka terhadap nilai-nilai universal Islam yang damai. Banyak tradisi keagamaan yang hidup di desa ini—seperti mappatamma, ma’bongi, tama banua baru, dan lainnya—yang menjadi ruang tumbuhnya nilai kemanusiaan dalam balutan budaya lokal. Santri-santri al-Risalah diajarkan untuk memahami dan menghargai semua itu, sebagai bagian dari pengamalan fikih kemasyarakatan yang sejalan dengan kaidah:
العَادَةُ مُحَكَّمَةٌ
"Adat kebiasaan dapat menjadi dasar hukum selama tidak bertentangan dengan syariat."
Dengan pendekatan ini, pondok dan masyarakat bergerak seirama. Para orang tua dan wali santri merasakan perubahan pada anak-anak mereka—menjadi lebih lembut, lebih peka, dan lebih bertanggung jawab. Sementara itu, para santri belajar dari masyarakat Batetangnga tentang makna hidup dalam kebersamaan dan saling menghargai dalam perbedaan.
Apa yang dilakukan di al-Risalah bukan sekadar pendidikan pesantren. Ia adalah proyek peradaban kecil di desa, membentuk generasi yang tidak hanya paham agama, tetapi juga siap menjadi pemimpin yang mengayomi, ibu yang mendidik dengan cinta, dan pemuda yang membawa harapan baru bagi umat.
